Categories
Tempat Wisata

Wisata Warisan Budaya Tak Benda Milik Aceh

Wisata Warisan Budaya Tak Benda Milik Aceh

Wisata Warisan Budaya Tak Benda Milik Aceh, – Beda daerah, beda pula keragaman yang ditawarkan. Kuliner misalnya. Jika di ujung timur Pulau Jawa, terdapat nasi tempong di Banyuwangi dengan ciri khas pedasnya yang membuat penyantapnya merasa seperti ditempong atau “ditampar” saking pedasnya sambal tempong, beda lagi dengan ujung paling utara Pulau Sumatra.

Kudapan khas Serambi Makkah unik milik Indonesia bernama Mamemek atau yang lebih familiar dengan sebutan Memek (huruf ‘e’ dibaca seperti menyebut kata ‘senang’) ialah salah satu makanan khas yang menjadi primadona dari Kabupaten Simeulue, Aceh.

Kudapan yang terbuat dari campuran beras ketan yang digonseng dan buah pisang ini memiliki arti nama mengunyah-ngunyah atau menggigit.

Bukan ramai karena namanya, melainkan karena kudapan yang memakan waktu sekitar satu jam untuk membuatnya ini baru-baru saja berhasil ditetapkan untuk masuk daftar warisan budaya tak benda Indonesia.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan tiga karya budaya asal Provinsi Aceh. Penentuan tersebut dilakukan dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya yang digelar secara virtual pada Jumat.

“Tiga warisan budaya tak benda asal Aceh yang baru ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia yaitu, Rapai Bubee, Keunenong, dan Peusijuek,” kata Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh dan Sumatera Utara, Irini Dewi Wanti, saat dikonfirmasi http://poker88asia.info/, Selasa.

Selain tiga karya budaya dari Tanah Rencong, sidang tersebut juga menetapkan 132 karya budaya lainnya dari berbagai daerah di Indonesia. Ditetapkannya tiga karya budaya asal Aceh menambah jumlah warisan budaya tak benda milik provinsi paling barat Indonesia ini, yakni menjadi 37 karya budaya yang telah ditetapkan.

Berikut ulasan singkat mengenai tiga warisan budaya tak benda asal Aceh meliputi Rapai Bubee, Keunenong, dan Peusijuek.

Rapai Bubee (Bubu)

Rapai Bubee merupakan salah satu pertunjukan kesenian tradisi yang berkembang di tengah-tengah masyarakat di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Kesenian ini biasanya digelar dengan musik dari suara rapai dan melakukan gerakan memainkan bubee (bubu untuk menangkap ikan).

Salah satu kesenian yang sudah ada sejak zaman nenek moyang ini awalnya hanya dimainkan oleh 12 orang dan diiringi satu alat musik bernama rapai kaoy. Lamban laun, musik pengiring berupa rapai ditambah enam unit lagi, sehingga menciptakan tujuh jenis irama menarik ketika dipukul.

Rapai Bubee biasanya berisi syair ayat Al-Qu’ran dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW. Rapai kaoy ini berfungsi untuk mengusir makhluk halus dan dimanfaatkan untuk peunawa (obat) bagi orang sakit. Tidak ada gerakan tari dalam penampilan rapai kaoy, mereka hanya menabuh Rapai.

Pertunjukan ini diceritakan memiliki unsur mistis, yakni Bubee (bubu) yang digerakkan makhluk halus (jin pari). Dahulu, kesenian ini hanya ditampilkan di pekarangan rumah dan tempat terbuka saja dengan tujuan menarik perhatian masyarakat sebagai hiburan semata.

Kini Rapai Bubee merupakan kesenian tradisonal yang dimainkan 13 orang dan maksimal 21 orang, terdiri dari 14 penabuh rapai, satu khalifah, dua sampai lima sebagai pemain, dan satu orang syeh. Kesenian ini biasanya dimainkan oleh pemain berusia di atas 30 tahun.

Gerakan Rapaii Bubee dominan dengan gerakan kaki dan tangan yang tidak terpaku pada hitungan. Gerakan pemain dibagi dalam lima bagian, yakni gerakan salam, breuh lam aree (tempo lambat), jeuee (tempo sedang) bubee dalam tempo cepat, dan salam penutup.

Sementara itu, khalifah sebagai pemimpin musik iringan tabuhan rapai yang menentukan mulai dan mengakhiri pertunjukan. Pertunjukannya berlangsung selama 10-30 menit di luar ruangan.

Untuk aksesoris pertunjukan, pemain menggunakan pakaian, celana hingga peci hitam, meski sesekali pawang akan menggunakan peci putih serta songket berwarna seragam.

Properti lainnya yang digunakan untuk pertunjukan ini antara lain tika iboeh (tikar pandan), bulukat tumpoe (nasi pulut putih), seneujeuk (tepung tawar), rapai, aree (mok bambu), breuh (beras) aweeuk (centong), jeuee (tampah), dan bubee (bubu).

Keunenong

Keuneunong merupakan pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta. Biasanya tradisi ini dipakai untuk menentukan kapan waktu yang tepat memulai turun dan bersawah. Ini dilakukan seseorang yang dituakan di suatu daerah atau kampung.

Cara penelitian tradisional yang dilakukan yakni dengan diam-diam orang tersebut datang ke sawah di malam hari untuk membajak sawah. Setelah itu, ia dapat menentukan kapan waktu yang tepat untuk mulai mengerjakan sawah.

Keuneunong itu sangat penting bagi petani karena diperlukan air yang sangat tergantung kepada air curah hujan untuk bersawah, bukan pada irigasi. Selain itu, masyarakat percaya bahwa memulai bersawah di waktu yang telah ditentukan sesuai keuneunong akan berpengaruh pada tanaman padi, seperti pada kesuburannya, hama padi, hasil panen, dan lain-lain.

Tradisi ini masih ada dan bertahan sampai saat ini. Setiap akan tiba waktu turun ke sawah, maka dilihat dari penanggalan keuneunong, begitu juga ketika tabur benih.

Peusijuek

Peusijuek adalah salah satu unsur lokal yang menjadi objek akulturasi dengan ajaran Islam secara damai dari waktu ke waktu. Biasanya tradisi ini dilakukan ketika ada acara adat di masyarakat. Seperti perkawinan, ritual, perayaan-perayaan, termasuk ketika ada seseorang akan berangkat maupun pulang dari ibadah haji.

Umumnya masyarakat tradisional menyakini bahwa praktek peusijeuk itu merupakan ketaatan beragama. Namun, kedudukannya belakangan berubah menjadi praktik adat yang terpuji dalam agama.

Nah, itulah tiga warisan budaya tak benda milik Aceh yang baru saja ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jika nanti liburan ke Aceh, jangan lupa berkenalan lebih dekat dengan budayanya ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *